Salurkan Hasrat Boros Lewat Pinjaman Online

Sudah menjadi rahasia umum jika yang namanya kredit atau pinjaman online merupakan salah satu gaya hidup yang dianut masyarakat saat ini. Dari urusan beli mobil atau rumah, kemudian gadget dan alat elektronik lainnya, semua seakan dipermudah dengan hanya syarat KTP dan slip gaji yang bersangkutan. Tinggal pilih barang yang diinginkan, isi formulir dan dokumen persyaratan, proses survey, barang dapat langsung jadi milik kita. Soal angsuran? Gampang, rata-rata perusahaan pembiayaan menerapkan sistem dari 12 hingga 60 bulan, dengan besaran bunga yang tentunya berbeda-beda. 

 Pinjaman Online

Hal yang sama rupanya juga berlaku pada pinjaman online yang semakin gencar berpromosi di berbagai media. Buka Youtube, muncul iklan pinjaman online. Pagi hari sebelum masuk kantor, datang SMS isinya ajakan untuk menggunakan jasa kredit berbasis aplikasi, nonton TV pun iklannya juga ada. Yang aman saat ini hanya koran dan radio, sepertinya. 

Suka tidak suka, adanya penawaran pinjaman online juga seolah membuka jalan untuk kemudahan berhutang. Jika sebelumnya sudah rutin menggunakan Kredit Tanpa Agunan (KTA), kartu kredit dan pinjaman uang di bank, biasanya akan tergiur dengan promosi yang baru satu tahun terakhir mulai berani muncul di publik dengan berbagai iming-iming. Sebut saja tingkat suku bunga yang rendah, proses pengajuan yang cepat, hingga syarat yang tidak memberatkan. Bukan tidak mungkin, mereka yang selama ini sangat dekat dengan masalah utang, akan dengan senang hati mencoba menggunakan fasilitas dengan sistem seperti ini.

Meskipun banyak kemudahan yang ditawarkan dan diiming-imingi kemudahan oleh si perusahaan penyedia jasa pinjaman, seharusnya nasabah dapat mengukur tingkat kebutuhan dari pengajuan kredit melalui aplikasi tersebut. Apakah memang sangat memerlukan dana segar dalam waktu singkat? Apakah sanggup membayar sebelum jatuh tempo? Apakah tidak takut dengan risiko penyalahgunaan data nasabah?

Kadang akibat seringnya berutang yang menjadi gaya hidup, risiko-risiko yang muncul seolah tidak lagi jadi kekhawatiran. Padahal, gaya hidup seperti ini risikonya sangat besar, terutama bagi kenyamanan finansial anda di masa depan. Bayangkan jika platform pinjaman anda besar dan masa angsuran yang lama, yakin masih bisa melunasi?

Saya kasih contoh, saat ini anda berusia 30 tahun, bekerja sebagai seorang karyawan swasta dengan gaji per bulan di kisaran 4 juta Rupiah. Mempunyai 1 istri dan 1 orang anak, satu unit motor dan mobil sedan yang masih belum lunas cicilannya. Tinggal di rumah KPR yang baru berjalan setengahnya dengan total seluruh angsuran yang anda harus bayar per bulan sekitar 1,5 juta Rupiah. Kemudian untuk keperluan renovasi rumah, anda memutuskan mengambil pinjaman online berbasis aplikasi yang mudah ditemui di Play Store, dengan besar pinjaman 30 juta Rupiah dan tenor selama 36 bulan atau 3 tahun. Itu artinya, dalam satu bulan anda harus bayarkan sekitar 800 ribu Rupiah, belum lagi ditambahkan dengan angsuran lainnya.

Patut anda ketahui, besaran pinjaman yang anda ajukan tidak akan benar-benar sebesar 30 juta di awal. Akan ada biaya administrasi dan segala biaya lainnya. Katakanlah anda setuju dan pinjaman diakui, apa yang menjadi jaminan jika angsuran anda akan tetap lancar? Siapa yang dapat menjamin anda masih bekerja 3 tahun lagi dengan kondisi yang fit seperti sekarang? Yang lebih penting lagi, siapa yang dapat menjamin eksistensi perusahaan penyedia jasa pinjaman berbasis aplikasi yang saat ini sedang berjaya, belum tentu 3 tahun lagi dia masih berdiri?

Hal-hal semacam ini seringkali lepas dari perhatian calon nasabah. Kemudahan-kemudahan semu yang ditawarkan seolah menjadi pembenaran untuk dapat mengajukan pinjaman dengan berbagai besaran juga alasan yang digunakan. Jika dipikir-pikir, tidak semuanya merupakan kebutuhan. Seringkali ada ego pribadi yang melatarbelakangi pengambilan kredit, baik berupa barang ataupun uang tunai.

Gaya hidup yang boros juga tak kalah mendasari. Jika selama ini sudah akrab dengan yang namanya kartu kredit, hal-hal sepele macam pinjaman online sudah pasti membuat mata segar. Ingin beli barang mewah atau bahkan liburan bersama keluarga, rasanya jadi jauh lebih mudah direalisasikan dengan pinjaman yang mudah pengajuannya, juga tanpa syarat yang menyulitkan.

Faktanya, rata-rata perusahaan penyedia jasa pinjaman berbasis aplikasi atau yang oleh para ekonom disebut fintech, justru tidak memiliki kekuatan hukum yang jelas seperti bank atau lembaga keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Apalagi saat ini hanya ada 64 perusahaan penyedia jasa kredit tersebut yang sudah dianggap legal dan berizin, serta diawasi operasionalnya oleh OJK. 

Tidak menutup kemungkinan, jika perusahaan fintech yang anda lirik karena gencarnya promosi di nomor pribadi, justru tidak berizin. Bahaya, lho! Karena bisa jadi yang bersangkutan juga terlibat dalam investasi bodong, yang menghimpun dana dari beberapa pihak untuk kemudian diputar guna keperluan operasionalnya, seperti memberikan pinjaman kepada nasabah yang ada. Indikasi ini bukan tidak mungkin terjadi, terutama jika nasabah tidak berhati-hati dengan cara yang dipilihnya untuk bertransaksi.

Kesimpulannya, sebenarnya bukan pada legal atau tidak legalnya perusahaan fintech yang akan digunakan. Kembali kepada diri masing-masing, seberapa perlu utang yang akan diajukan? Apa hanya untuk memenuh keinginan, risiko yang cukup berat harus berani ditanggung?  Ingin membandingkan dan mencari pinjaman online yang aman silahkan cek aja di https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online

Posting Komentar

1 Komentar